Forum Kajian Pancasila dan Ketatanegaraan Indonesia
Sekretariat : Gamasan RT. 01/02 Bandungan Kec. Bandungan Kab. Semarang (Jateng)
Telpon : 081390401276, Email : wahyu.wijayanto45@gmail.com
KITA
ORANG INDONESIA
Jiwaku telah menyatu dalam roh perjuangan bangsaku dan ragaku akan menjadi benteng tegaknya kejayaan negeriku.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran yaitu kebenaran yang dibangun di atas jiwa yang luhur.Luhur itu : Lurus hati jujur apa adanya.
Rusaknya moral bangsa, hilangnya karakter bangsa oleh sebab hati yang bengkok, yang membuahkan liciknya pikiran, perkataan sikap dan perbuatan jahat. Politik menjadi corong : Pinternya otak licik penuh taktik. Pemilu merupakan alat politik untuk menempatkan ambisi dikursi goyang kekuasaan. Pemilu itu artinya : percaya memilih lantaran uang, dengan uang urusan apapun nanti gampang.
Sistem perpolitikkannya berorientasi pada soal bagaimana berkuasa dan mempertahankan kekuasaan. Siapa berkuasa aku adalah segala-galanya, negara adalah saya, siapa kuat, kuasa pasti benar. Itulah Hukum Rimba Indonesia.
Kemanakah Kiblat Indonesia ?
Banyak orang mengaku sebagai Orang Indonesia akan tetapi tidak paham apa itu Indonesia? Bleger badan dan wadagnya Indonesia, roh dan jiwanya bangsa mancanegara.
Diakui of, tidak bangsa ini telah mewarisi budaya bangsa asing, beratus tahun lamanya. Termasuk sistem demokrasi dan ketatanegaraannya. Pancasila sebagai jiwanya bangsa Indonesia menjadi hiasan dinding penuh debu dan lamat. Dianggap barang kuno, ketinggalan jaman dan dilupakan orang, lebur kiamat dan dipeti matikan. Orang Indonesia justru gandrung dengan jimat-jimat, aji-aji serta ilmunya bangsa asing. Bangga jika mendapatkan predikat wong londo atau orang asing, baik itu tingkah laku sampai aqlaknya-pun mengikuti bangsa asing, sampai melupakan jati diri bangsa. Indonesia dewasa ini menjadi ajang atau arena adu pinter, adu kuat dan adu bener. Menonjolkan ego pribadi maupun kelompok, saling berebut aku, aku dan aku.
Haluan Indonesia sudah dibengkokkan bahkan diwalik grembyang seratus delapan puluh derajad oleh orang-orang pinter yang sudah bengkok hatinya, yaitu Orang-Orang Indonesia yang memakai sandangan Feokaliber yaitu Feodalis, Kapitalis dan Liberalis. Akar Feokaliber adalah ego : Aku, Angkuh, Sombong yang disebut Tri AAS. Tri AAS inilah bibit kawit penyakitnya bangsa yang pada hakekatnya sudah kritis, diambang kematian.
Ibarat rumah, Gambar Indonesia sudah bergeser owah dari ompaknya atau dari pondasinya. Ibarat kapal, Bahtera Indonesia sudah diombang-ambingkan badai topan dan kehilangan arah. Ini merupakan Fenomena Nasional yang menjadi keprihatinan bangsa.
Jika para pejabat yang bertengger di panggung-panggung kekuasaan asyik mencari kesalahan musuh-musuh politiknya, sibuk menyelamatkan diri, berdiri di ujung tanduk kejatuhan, di antara hidup merana dan mati konyol. Itulah proses menuju kiamat yang sebenar-benarnya. Kiamat itu artinya kejahatan itu akan mati.
Sampai kapan pendusta-pendusta yang terhormat, tuan-tuan dan nyonya-nyonya “kusta” (rakus, serakah dan tamak) tahan duduk di kursi goyang kekuasaan yang teramat panas.
Camkan ini !
Jika hukum manusia tak mampu menyentuhmu oleh sebab kesaktianmu, hukumnya sang pencabut nyawa yang akan bicara.
Tamatlah riwayatmu !
Karakter Indonesia.
Kita............Orang Indonesia tidak rela Negeri Indonesia menjadi ajang rebut rayah, rebut pinter, rebut bener, dan rebut kuasa.
Sekali Merdeka tetap Merdeka !
Kembali pada Karakter Indonesia yaitu jiwa yang luhur. Pancasila itu jiwanya Orang Indonesia adalah Jiwa Sosial Kebangsaan. Sosial itu : semua orang saling peduli satu sama lain. Inilah ciri khas Orang Indonesia.
Jika setiap Orang Indonesia sudah berjiwa sosial, sambung-menyambung saling bertaut satu dengan yang lain, terikat dalam kerukunan dan saling ketergantungan, maka akan melahirkan Jiwa Sosialnya Bangsa. Ini yang dinamakan Jiwa Sosial Kebangsaan dan inilah Karakter Indonesia. Yang namanya Orang Indonesia haruslah berjiwa sosial, jiwa-jiwa sosial ini akan melahirkan gagasan sosial, rasa sosial, dan tindakan sosial. Ke semuanya ini dimanifestasikan dalam satu sistem sosial, oleh sebab itu masyarakat bangsa dan negara harus ditata dan diatur dengan tatanan sosialnya bangsa.
Akarnya jiwa sosial itu adalah rasa peduli. Peduli artinya peka dengan urusan lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan hidup bertetangga, lingkungan bermasyarakat, bangsa dan negara maupun lingkungan antar bangsa. Orang yang peka berarti tanggap rasa serta sigap berbuat terhadap beban-beban kesusahan serta penderitaan di lingkungan sekitar kita. Bagaimana orang yang kesusahan maupun kekurangan itu menjadi aman, nyaman dan sejahtera. Inilah Amanat Penderitaan Rakyat. Jadi hanya orang-orang yang berjiwa sosial yang mampu memperjuangkan dan mengujudkan Amanat Penderitaan Rakyat.
Kriteria Pemimpin Indonesia.
Di Indonesia haruslah didaulat Orang Indonesia, ditata dan diatur dengan sistem Indonesia dan dipimpin oleh seorang pemimpin. Seorang Pemimpin Indonesia haruslah dicalonkan dan dipilih oleh Orang Indonesia. Lha kita saat ini butuh pemimpin, bukan penguasa yaitu Pemimpin Pamomong. Pemimpin Pamomong itu pada hakekatnya adalah abdinya rakyat. Bukan ndoro bukan tuan melainkan baturnya rakyat, siapa yang mau berebut menjadi baturnya rakyat ? Ini yang mestinya direnungkan oleh hati nurani setiap orang yang mengaku Orang Indonesia.
Kalau setiap orang tahu dan paham bahwa pemimpin itu baturnya rakyat, tentunya tidak berbondong-bondong rebutan jadi batur. Jadi seorang Pemimpin Pamomong haruslah berjiwa sosial kebangsaan atau berjiwa Pancasila. Paham Konstitusi Dasar Undang-Undang Dasar 1945, dan perlu digaris bawahi bahwa setiap Orang Indonesia berhak di calonkan dan dipilih menjadi Pemimpin Pamomong. Siapa yang mencalonkan? Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Negeri Indonesia. Beri kesempatan pada rakyat, beri kesempatan pada setiap Orang Indonesia tanpa pandang muka, tanpa pandang suku, tanpa pandang derajad pangkat, status bahkan soal pendidikan sekalipun, jangan dibuat aturan pendiskriminasian, jika sudah demikian rakyat itu janganlah ditempatkan sebagai alat, sebagai obyek, dan sasaran politik.
Dalam mekanisme pemilihan Pemimpin Pamomong yang mana memberi kesempatan secara terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia, baik itu orang miskin, orang bodoh, wong desa, mempunyai kesempatan yang sama dengan orang berduit maupun orang pinter. Tak peduli itu Tukang Ngarit, Angon Kebo, Pedagang Asongan, Tukang Kayu sampai Ketua Partai, Pimpinan Perusahaan, Profesor Doktor sekalipun. Jika mau dan mampu menjadi baturnya rakyat, silahkan. Ini yang namanya keadilan sosial.
Jika perlu dibuka Sayembara Nasional Indonesia.
Wahai Orang-Orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke siapa yang sanggup menjadi abdinya rakyat, memikul beban-beban kesusahan dan penderitaan rakyat. Silahkan mendaftarkan diri tanpa embel-embel, tedeng aling-aling maupun rekayasa apapun. Ini yang namanya Sistem Demokrasi Sosial yang harus dibangun pada saat rakyat merindukan figur seorang Pemimpin Pamomong yang benar-benar mampu membawa Bahtera Indonesia menuju Indonesia Raya.
Lalu dibuat atau disiapkan mimbar kehormatan, dimana setiap calon diberi kesempatan untuk menyampaikan program-program kebangsaan, Konsepsi Indonesia Baru, biar rakyat yang memilih, biar rakyat yang menentukan pilihan, secara fair dan terbuka.
Mekanisme yang semacam ini yang memilih figur pemimpin tentunya tanpa gontok-gontokan maupun sengketa, serta menghemat keuangan negara.
GARUDA PAMUNGKAS
Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terujud nyata jika TNI rukun manunggal bersama rakyat. TNI maupun Polri kembali pada fungsi sosial sebagai abdi rakyat yaitu mengabdi, melayani dan mengayomi.
Dwi fungsi TNI pada hakekatnya :
TNI sebagai Lembaga Pertahanan dan Ketahanan Negara.
TNI sebagai Lembaga Fungsi Sosial.
Bung Karno di dalam phylosofienya mengajarkan jika kamu jadi Tentara : “Tangan kanan pegang bedil, tangan kiri pegang pacul”. Artinya TNI termasuk Polri memiliki dua fungsi yang saling melengkapi, satu sisi sebagai angkatan bersenjata yang menempati fungsi militer, sisi lain sebagai rakyat yang menempati fungsi sosial.
Ketika negara membutuhkan sebagai kekuatan pertahanan dan ketahanan negara, harus siap sedia mengangkat senjata. Sekalipun darah dan nyawa taruhannya. Ketika negara aman dan tentram, TNI berada ditengah-tengah rakyat, kembali dalam pelukan dan pangkuan rakyat. Ia adalah rakyat. Harus siap sedia pegang “pacul” membanting tulang, memeras keringat bersama rakyat. Ketika negara membutuhkan rakyat sebagai kekuatan bela negara, rakyat-pun siap sedia menjadi bagian dari pertahanan dan ketahanan negara.
Dus........dengan demikian keselamatan serta ketentraman bangsa dan negara ini menjadi tugas dan tanggung jawab Orang Indonesia, bukan saja ditangan TNI maupun Polri.
TNI dan Polri dilahirkan dari Rahim Perjuangan Rakyat.
Sejarah perjuangan bangsa mencatat sebelum TNI dan Polri terbentuk, siapa yang dengan gagah berani berperang mengusir penjajah asing? Siapa orang-orang yang layak disebut pahlawan? “Rakyat”. Wong cilik, wong bodho, wong desa yaitu orang-orang yang pemberani, jiwanya berkobar-kobar tidak rela negerinya dijajah, apa yang dipegangnya menjadi senjata, tidak kenal takut dan tidak takut mati meskipun pistol, bedil, tank, granat, bom serta canggihnya senjata lawan tatkala itu.
Berapa banyak darah serta nyawa para pejuang dipertaruhkan demi Indonesia merdeka? Bahkan banyak para pejuang berguguran di medan laga, tidak pernah sedetik-pun menikmati Indahnya Alam Kemerdekaan. Pasukan rakyat tanpa gaji, tanpa jabatan, tanpa embel-embel apapun namun layak dan pantas disebut pahlawan sejati yaitu pahlawan-pahlawan tak dikenal. Hanya Tuhan yang tahu, Ibu Pertiwi yang memangku jasadnya. Pasukan rakyat tanpa helm baja, tanpa seragam loreng, tanpa sepatu, hanya dengan kathok kolor dan sarung, bersenjatakan bambu runcing siap bertempur menghadang serta menantang Kapal Induk, Tank-Tank, Panser maupun Pesawat Tempur.
Mereka berguguran sebagai Bantala-Bantala Nusantara. Perjuangan beliau-beliau tidaklah sia-sia meskipun satu dibanding seribu nyawa, namun roh perjuangan rakyat menghantarkan bangsa ini merdeka.
TNI dan Polri itu jelmaan pasukan rakyat, dibentuk oleh rakyat, Roh Jiwa Pejuang rakyatlah yang hidup dan tumbuh sebagai tentara-tentara modern sampai hari ini, oleh sebab itu jangan sekali-kali melupakan rakyat, jangan sekali-kali menyengsarakan rakyat, kembalikan rakyat, posisikan sebagai tuan di negerinya sendiri supaya kedaulatan rakyat tidak dikebiri, direkayasa dengan pinternya otak licik penuh taktik, sehingga rakyat diperalat sebagai budak-budak tertindas di jaman kemerdekaan!
TNI dan Polri dengan sumpah setianya dibelenggu dengan tugas dan tanggung jawab, terikat di bawah naungan kekuasaan sehingga terciptalah jurang pemisah antara TNI dan rakyat. Kekuasaan memanfaatkan fungsi militer untuk membentengi jabatan dan kedudukan penguasa.
TNI maupun Polri menjadi bemper-bemper pengaman, buldoser-buldoser yang siap menggusur habis suara rakyat. Ketika rakyat diadu dengan pasukan bersenjata yang terlatih, apalah dayanya?
Kembali rakyat yang menjadi korban, korban egoisnya para penguasa. Camkanlah ini!
Sejak Indonesia belum merdeka sampai hari ini 67 tahun Indonesia merdeka, rakyat selalu menjadi korban, sebab selalu dikorbankan oleh ambisi seseorang.
Soal Senjata dan Perang.
Perang itu adalah budayanya angkara murka, budayanya bangsa yang rakus, serakah dan tamak. Dan perang saat ini menjadi alat dari Feokaliber (Feodalisme, Kapitalisme dan Liberalisme) untuk merekayasa bisnis di bidang persenjataan.
Jika setiap bangsa damai sejahtera tanpa konflik maupun sengketa, hidup berdampingan dengan aman, nyaman dan rukun, maka pabrik-pabrik senjata akan bangkrut, oleh sebab itu diciptakan konflik-konflik antar bangsa melalui rekayasa politik dengan dalil-dalil perdamaian.
Feokaliber membuahkan sistem-sistem baru, secara internasional untuk menjebol dan mendobrak benteng-benteng sosial kebangsaan. Patriotisme, nasionalisme, rasa peduli soal bangsa dan negara digerogoti sedikit-demi sedikit dengan kemajuan teknologi, globalisasi, hak asasi manusia dan demokratisasi. Semua itu dipoles indah sebagai pioner-pioner untuk menguasai bangsa-bangsa. Agen-agen serta makelar-makelar kekuasaan tumbuh subur di ladang Indonesia, boneka-boneka cantik antek Feokaliber ditanam di pos-pos kekuasaan.
Memang perang kemerdekaan sudah lewat tetapi perang politik maupun perang sosial tumbuh subur bak jamur di musim hujan, mengorbankan rakyat, memperalat rakyat dan menempatkan rakyat sebagai obyek untuk diadu-domba, dipecah-belah, dibodohi sehingga yang namanya perselisihan, sengketa, pertikaian yang berujung maut menjadi makanan kesukaan. Inikah kepribadian Indonesia? Bangsa yang berjiwa luhur, santun, ramah dan sabar.
Kami menyerukan kepada seluruh bangsa untuk bertobat, serukan “Tobat Nasional”. Perang kemerdekaan baik itu merebut kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan yang pernah dilakukan bangsa ini sebagai bangsa pejuang itu adalah perang yang luhur, perang yang mulia. Oleh sebab apa? Untuk mempertahankan keutuhan Negeri Indonesia dari kerakusan, keserakahan dan ketamakan bangsa-bangsa penjajah. Perang pada saat itu adalah perang untuk menegakkan nilai-nilai keutamaan menghadapi angkara murka. Jadi pengertian perang di sini bukan sebagai kebanggaan, gagah-gagahan atau jagoan pamer kekuatan, hebat dan masyur. Itu bukan Karakter Indonesia.
Justru perang itu harus dihindari, sebagai alternatif terakhir. Bedil atau senjata itu pada hakekatnya adalah alat bela negara, alat untuk menjaga kehormatan bangsa, sehingga perang itu haruslah di stop sebab bertentangan dengan roh kebenaran. Kalau kita berdiri sebagai ksatria utama, kita harus punya batasan-batasan di dalam menghadapi lawan ataupun musuh. Berangkat dari jiwa yang luhur, kemudian dipagari dengan norma-norma kemanusiaan, norma keadilan atas dasar kasih. Sebab perang itu bukanlah untuk menjadi kebanggaan atau budaya untuk memerangi bangsa lain.
Ini yang harus diluruskan karena senjata itu diciptakan untuk membunuh, dan Tuhan tidak menghendaki adanya pembunuhan. Karena umat manusia itu harus dikembangbiakkan hidup rukun berdampingan, untuk mengelola bumi ini demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Ini amanat yang harus diemban, yang harus dipahami oleh TNI maupun Polri. Oleh sebab itu kita harus kembali kepada karakter luhur bangsa, bahwasannya kita sudah tahu dan paham bahwa kita dilahirkan bukan sebagai bangsa yang suka berperang. Kita dilahirkan bukan sebagai ahli-ahli membuat senjata, oleh sebab itu kita harus berani untuk menyerukan, menyuarakan sebagai Pelopor-Pelopor Kerukunan dan Persatuan Bangsa-Bangsa. Hentikan perang! Hentikan pabrik-pabrik senjata! Apalah artinya kita beragama jika kita tidak rukun, damai dan sejahtera.
Pada saat-saat ini kita membutuhkan figur Pemimpin Pamomong untuk menyelamatkan bangsa. Kita bangun kembali pilar-pilar kebangsaan, kita bangun kembali benteng-benteng dan Pagar Nusantara yang sudah dibikin loyo, dibikin lemes dan dibuat tidak berdaya. Bersama dengan rakyat kita bangkit untuk membangun kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bebas dari pengaruh bangsa asing, yang bebas dari penjajahan bangsa sendiri, dimana Negeri Indonesia ditumbuhi dengan tanaman-tanaman yang subur. Di sana ada canda dan tawa, ada kenyamanan, ada rasa aman, serta saling peduli. Kemudian kita berdiri sama tinggi duduk sama rendah, saling bergandengan tangan, saling berpelukan sebagai satu keluarga, sehingga rakyat tidak lagi ditakut-takuti dengan yang namanya senjata. Rakyat ditakut-takuti dengan yang namanya TNI maupun Polri.
Kapan lagi kita mau bersama, kita mempunyai idam-idaman yang sama, kita dilahirkan dari rahimnya Ibu Pertiwi, kita junjung tinggi, kita tegakkan Kejayaan Indonesia. Kita kembalikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai jiwa dan raganya bangsa Indonesia, yang membuat Wajah Indonesia itu berseri. Mari kita bersama-sama mensosialisasikan Pilar-Pilar Kebangsaan di seluruh Persada Nusantara supaya orang-orang itu sadar bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang cinta damai, bangsa yang cinta kerukunan dan gandrung persatuan.
Mari kita serukan bersama-sama, kita awali dari Negeri Indonesia sebagai pelopor-pelopor kerukunan dan persatuan bangsa-bangsa.
Sekali lagi stop perang!
Hentikan pembuatan senjata-senjata yang mematikan!
Sekali Merdeka tetap Merdeka!
Jiwaku telah menyatu dalam roh perjuangan bangsaku dan ragaku akan menjadi benteng tegaknya kejayaan negeriku.
Manggala Puteh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar